• Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Iklan

    Dari Bugis ke Dunia, Mahasiswa IAI DDI Sidenreng Perkenalkan Warisan Budaya di Forum Internasional

    Satry Polang
    Kamis, 17 Oktober 2024, Oktober 17, 2024 WIB Last Updated 2024-10-17T17:19:24Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

     

    Dari Bugis ke Dunia Mahasiswa IAI DDI Sidenreng Perkenalkan Warisan Budaya di Forum Internasional

    NARASIRAKYAT, MALAYSIA --- Mahasiswa IAI DDI Sidenreng Rappang yang mengikuti program student mobility di Malaysia, Thailand, dan Singapura baru-baru ini menghadirkan diskusi menarik tentang budaya Bugis, khususnya terkait busana tradisional yang mereka kenakan selama kegiatan tersebut. Busana Bugis dari Sulawesi Selatan menjadi pusat perhatian dalam beberapa sesi diskusi di berbagai universitas yang mereka kunjungi, di mana peserta dari negara-negara tersebut sangat antusias mempelajari makna filosofis dan sejarah di balik pakaian tradisional ini.


    Dalam beberapa kesempatan, mahasiswa IAI DDI Sidenreng Rappang mengenalkan pakaian adat Bugis, seperti baju bodo untuk perempuan dan lipa’ sabbe atau sarung khas Bugis untuk laki-laki, yang mencerminkan nilai-nilai luhur kebudayaan mereka. Busana ini tak hanya menarik perhatian karena keindahannya, tetapi juga karena setiap detail dari busana Bugis memiliki arti simbolis, mulai dari warna, motif, hingga cara pemakaiannya.


    Di Malaysia, diskusi tentang busana Bugis berlangsung di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), di mana mahasiswa dan dosen dari berbagai fakultas menunjukkan ketertarikan mereka terhadap pengaruh budaya Bugis di Asia Tenggara. Dalam diskusi tersebut, diungkapkan bahwa busana Bugis bukan hanya sekedar pakaian, tetapi juga merupakan representasi dari identitas, kearifan lokal, dan nilai-nilai adat yang masih sangat dihormati oleh masyarakat Bugis hingga saat ini.


    Di Thailand, para mahasiswa IAI DDI berkesempatan untuk berdialog dengan mahasiswa lokal tentang kesamaan budaya di antara suku-suku di Asia Tenggara. Salah satu aspek yang disoroti adalah bagaimana busana tradisional di Thailand dan Sulawesi Selatan sama-sama memainkan peran penting dalam upacara-upacara adat dan perayaan tertentu. Mahasiswa IAI DDI menjelaskan bahwa warna baju bodo, misalnya, mencerminkan status sosial dan usia pemakainya. Warna cerah seperti merah dan kuning biasanya dipakai oleh kaum muda, sementara warna gelap seperti hitam diperuntukkan bagi perempuan yang lebih tua.


    Saat berada di Singapura, mahasiswa IAI DDI kembali memamerkan busana Bugis dalam sebuah sesi diskusi budaya di salah satu universitas terkemuka di negara tersebut. Para mahasiswa menjelaskan bagaimana pakaian ini juga memiliki keterkaitan historis dengan diaspora Bugis di Singapura. Dalam sejarahnya, banyak orang Bugis yang bermigrasi ke Singapura dan membawa serta budaya dan adat istiadat mereka, termasuk busana tradisional yang masih dikenang hingga kini. Diskusi ini mendapatkan sambutan positif dari para peserta, yang melihat bagaimana budaya Bugis telah berperan dalam memperkaya keragaman budaya di Singapura.



    Partisipasi mahasiswa IAI DDI Sidenreng Rappang dalam student mobility bukan hanya memperluas wawasan akademik mereka, tetapi juga menjadi kesempatan penting untuk mempromosikan kebudayaan Bugis di panggung internasional. Busana Bugis yang dikenakan oleh para mahasiswa ini menjadi simbol kebanggaan terhadap identitas lokal yang bisa diperkenalkan dan dibagikan di antara komunitas internasional. Diskusi hangat tentang busana Bugis di Malaysia, Thailand, dan Singapura ini menunjukkan bahwa kebudayaan lokal bisa menjadi jembatan bagi pemahaman lintas budaya dan kolaborasi antarnegara.



    Mahasiswa dari berbagai negara menyampaikan kekaguman mereka terhadap keindahan dan makna busana Bugis. Mereka tertarik dengan bagaimana tradisi ini tetap hidup dan relevan di masyarakat modern Sulawesi Selatan. Beberapa peserta dari Singapura bahkan mencatat kemiripan antara busana tradisional Bugis dan beberapa elemen pakaian adat yang ada di budaya Melayu dan diaspora Bugis yang ada di negara mereka.



    Program *student mobility* ini diharapkan terus menjadi platform yang menghubungkan mahasiswa dari berbagai negara, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga budaya. Dengan memperkenalkan busana dan budaya Bugis di forum internasional, diharapkan generasi muda semakin menghargai dan melestarikan warisan budaya leluhur mereka sekaligus membuka ruang bagi dialog lintas budaya yang lebih luas.

    Komentar

    Tampilkan